Sea Turtles: The Sea Nomads in Raja Ampat

Ini merupakan perjalanan saya yang pertama kali ke Raja Ampat, dan saya tidak pernah membayangkan akan menyelam dengan penyu sebanyak dan sesering ini. Hingga hari ke-10 dari kegiatan monitoring kesehatan terumbu karang, kami menemukan 33 penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan 17 penyu hijau (Chelonia mydas) di 26 dari 46 lokasi survei. Bahkan dalam sekali penyelaman, kami pernah menemukan 8 penyu sekaligus. Selain itu, kebanyakan penyu-penyu itu juga tidak terganggu dengan kehadiran kami dan tetap asyik mengunyah karang lunak dan spons yang menjadi salah satu menu dietnya.

Penyu sisik meluncur tenang bersama ikan ekor kuning © Edy Setyawan

Penyu merupakan biota pengembara samudera yang saat ini statusnya terancam dan sangat penting untuk dilindungi. Ada dua jenis penyu yang terdapat di pantai dan pulau-pulau kecil di Raja Ampat, antara lain: Penyu hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata). “Hampir semua pulau di Raja Ampat yang tidak berpenghuni biasanya menjadi tempat peneluran penyu,” kata Nur Ismu Hidayat, CI’s Raja Ampat Monitoring & GIS Coordinator.

Pantai yang berpasir putih dengan kontur yang tidak terlalu curam serta memiliki tumbuhan pantai biasanya menjadi tempat yang cocok bagi penyu untuk bertelur. Banyak pulau-pulau kecil di Raja Ampat yang memiliki karakteristik seperti ini seperti di Misool, Wayag-Sayang, dan Ayau.

Seperti halnya di tempat-tempat lain, penyu-penyu di Raja Ampat juga dimanfaatkan untuk diambil daging dan telurnya. Masyarakat biasanya menggunakan daging penyu untuk penyelenggaraan pesta-pesta adat maupun untuk konsumsi sehari-hari. Namun dengan adanya KKPD di Raja Ampat, pemanfaatan penyu sudah banyak berkurang. Dengan adanya deklarasi adat tentang zonasi KKPD Kofiau dan aktifnya masyarakat dalam melakukan patrol di KKPD, aktivitas pemanfaatan penyu mulai berkurang.

“Mereka berhenti mengambil penyu karena malu dengan anggota keluarganya yang menjadi tim patroli,” kata Naftali, orang lokal yang membantu di dalam monitoring. “Adanya deklarasi adat pada 2011 lalu juga telah menyadarkan masyarakat untuk tidak lagi memanfaatkan penyu,” tambahnya.

Perlindungan penyu tidak cukup hanya dengan melarang penangkapan penyu dan pengambilan telurnya, namun juga melindungi pantai-pantai yang menjadi tempat penelurannya. Penyu akan bertelur di pantai tempat ia lahir. Jika pantainya rusak, maka penyu itu tidak akan bisa bertelur.

Pada 2010, Bupati Raja Ampat mengeluarkan Surat Edaran tentang pelarangan penangkapan biota yang dilindungi termasuk ikan hiu, ikan pari burung, ikan hias, duyung, dan penyu. Saat ini, pemerintah daerah juga sedang menyusun Rancangan Peraturan Daerah untuk memperkuat surat edaran tersebut. Upaya ini tidak cukup berhenti di sini saja, namun perlu ditindaklanjuti dengan penyadaran masyarakat untuk turut melindungi penyu dan tempat penelurannya.

————————————————————————————————–

This is my first trip to Raja Ampat, and I never imagined I would be diving with so many turtles and seeing them so frequently in the water. It is the tenth day of the reef health monitoring, and we have recorded 17 green (Chelonia mydas) and 33 hawksbill (Eretmochelys imbricata) turtles in 26 of the 46 locations we have surveyed. We found 8 turtles in a single dive. Most of the turtles were not disturbed by our presence as they chewed on soft corals and sponges, which are an important part of their diet.

Hawksbill turtle ©Edy Setyawan

Turtles are sea nomads which are threatened globally and are in need of urgent protection. There are two species of turtles found in the waters of Raja Ampat – green and hawksbill turtles. According to Nur Ismu Hidayat, CI’s Raja Ampat Monitoring and GIS Coordinator, “Almost all uninhabited islands with sandy beaches in Raja Ampat are nesting sites for turtles.

” White sandy beaches with gentle slopes are suitable for turtles to lay their eggs. There are many of small islands in Raja Ampat which have these characteristics like Wayag-Sayang, Ayau and Misool.

Similar to other places in Indonesia, turtles in Raja Ampat are exploited for their meat and eggs. Local people still use turtle meat for both traditional feasts and daily consumption. However, in marine protected areas (MPAs) we are seeing a reduction in the exploitation of turtles. Following a traditional declaration which formalized a zoning system for the MPA, the local communities are actively patrolling their MPA, and this is resulting in a reduction in the number of turtles exploited.

“Those people (who are exploiting turtles) have stopped catching turtles as they feel ashamed because they have family members that are working in the MPA patrol team,” said Naftali, a local from Kofiau who is helping us with the monitoring. “The traditional declaration in 2011 has resulted in the local communities protecting turtles in their MPA,” he added.

Protecting turtles by forbidding turtle exploitation is not enough. We also need to protect turtle nesting beaches. Turtles return to their home nest to lay their eggs, and they cannot lay their eggs if the beach is degraded. In 2010, the Raja Ampat local government issued a formal letter forbidding the catching of sharks, rays, dugongs and turtles. Currently the local government is drafting a regulation to strengthen this formal letter. But this effort is still not enough – it should be followed by public awareness to build local people’s commitment and involvement in protecting turtles.

About these ads

6 thoughts on “Sea Turtles: The Sea Nomads in Raja Ampat

      • Keren banget! tulisannya sangat mengedukasi mas! :))
        eh tapi iya yah, sedeket itu dia gak kenapa2 kah? tp kayaknya apapun itu, kl kita emg gada niatan mengganggu, mreka juga gak bakal jahat sih yah.. :)) Jadi kepingin banget liat dan berenang bareng penyu2 itu langsung di habitatnya..

      • Terima kasih banyak mba Metta :)

        Iya…saat itu saya juga heran sekali saya bisa berinteraksi sedekat itu dengan si penyu. Dekat sekali hingga kalo saya ingin memegangnya pun bisa..tapi saya hanya ingin memotret saja..:)
        Betul mba…kalau kita ada niatan jahat, mereka juga ga akan merasa terganggu keberadaan kita…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s